Melihat Kesenian Wayang Golek yang Masih Bertahan Hingga Sekarang


Wayang Golek – Kesenian asli Jawa Barat ini menggunakan boneka kayu yang memiliki bentuk sesuai dengan cerita yang diperankannya. Kesenian wayang golek semakin terkenal ketika masuk ke ranah televisi Indonesia. Jika Anda termasuk generasi tahun 90-an pasti kenal dengan karakter “Cepot” sebuah wayang golek berwarna merah dengan 2 buah gigi besar yang selalu menyajikan cerita lucu yang mampu mengocok perut penonton.

Karakter Cepot ini dibawakan oleh seorang dalang  yang juga seniman professional bernama Asep Sunarya. Ditangannya, kesenian wayang golek mampu terkenal hingga ke manca negara seperti Inggris, Belanda, Swiss dan Belgia. Tidak heran jika kesenian ini masih tetap terjaga hingga beberapa generasi. Bahkan, ada juga stasiun TV yang menghadirkan pentas wayang golek namun dengan konsep yang lebih modern.


Kesenian Wayang Golek yang Tetap Hidup


 

Sejarah Awal

Dahulu, wayang golek digunakan sebagai salah satu media dakwah dalam penyebaran agama Islam. Kesenian ini pertama kali diperkenalkan oleh salah satu “wali songo” yaitu sunan kudus pada abad ke 17. Pada saat itu, sunan kudus menggunakan wayang golek untuk mengenalkan agama Islam kepada masyarakat sekitar.


Kesenian ini mulai masuk dan berkembang di wilayah Jawa Barat pada masa kesultanan Mataram yang saat itu sedang melakukan ekspansi ke berbagai pulau pada abad ke 17. Cerita yang dibawakan pada kesenian wayang golek masih seputar kisah para dewa.

Pada abad ke 19, barulah kisah yang dibawakan mengalami perubahan diantaranya adalah cerita tentang perjuangan, kisah cinta para raja, dan cerita rakyat. Kata “wayang” memiliki arti bayang karena dulu pada zamannya wayang kulit hanya diperlihatkan bayangannya saja ketika pementasan, sedangkan kata “golek” memiliki arti boneka kayu.

Baca Juga: 5 Jenis Tarian Sunda yang Terkenal dengan Gerakan dan Busana yang Khas

Pertunjukan dan Iringan Lagu

Sama halnya dengan wayang kulit, kesenian ini juga menggunakan iringan musik dalam pertunjukannya. Namun, lagu yang digunakan adalah lagu sunda yang diiringi tabunan gamelan sunda diantaranya sepasang gong, satu perangkat boning , satu perangkat boning ricik, sebuah peking, satu perangkat kenong, gambang, rebab, dua buah saron dan kendang.

Bahasa yang digunakan dalang untuk memainkan perannya adalah bahasa sunda halus. Selain menyajikan cerita yang menarik, terkadang dalang juga memberikan humor yang menggelitik sehingga mengundang gelak tawa para penonton. Wayang golek memang sukses menghibur masyarakat Indonesia dengan berbagai kisah yang dibawakannya.

Perkembangan Zaman

Sebelumnya, pentas wayang golek hanya dibawakan oleh seorang dalang saja. Pada tahun 1920, kesenian ini mulai diiringi alunan musik dan sinden supaya lebih menarik. Kesenian ini terus berkembang dan mengalami banyak perubahan yang mulai terlihat ketika memasuki ranah televisi pada tahun 90-an ketika wayang golek bernama “Cepot” mulai berakting dalam acara “Asep Show.”

Seiring bertambahnya waktu, kesenian ini terus berevolusi dengan konsep yang lebih modern seperti yang ditayangkan stasiun tv Net dalam acara “Bukan Sekedar Wayang” yang salah satu pemerannya adalah Sule. Cerita yang dibawakan cenderung lebih kekinian dan tampilan kostumnya juga lebih gaya daripada sebelumnya. Acara ini terus mendapatkan rating yang tinggi, tidak heran jika disukai banyak orang.

Selain dipentaskan, wayang golek juga kerap dijadikan buah tangan khas daerah Jawa Barat. Jika Anda berwisata ke kawasan puncak, di sepanjang jalan Anda akan melihat banyak warung yang menjual wayang golek dengan berbagai bentuk, ada yang bentuknya berupa rama, mahabrata dan hanoman. Namun, yang paling laris adalah yang memiliki bentuk rupa si “cepot” dengan tubuh berwarna merah.


Cara memainkan Wayang Golek

Ada beberapa struktur yang harus diperhatikan untuk memainkan wayang golek yaitu satu kayu di bagian tengah yang digunakan untuk menggerakan tubuh dan kepala, sedangkan dua kayu kecil di kanan dan kiri yang berfungsi untuk menggerakan tangan. Ada juga tali di bagian tengah yang digunakan untuk menggerakan mulut.


Sebagai pemuda Indonesia, selayaknya kita lestarikan kesenian wayang golek ini agar bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya. Ada banyak cara untuk menjaga agar kesenian ini tetap hidup seperti mengadakan pertunjukan di pentas ataupun di televisi, digunakan untuk menceritakan dongeng kepada anak-anak, dan juga dijadikan maskot suatu tempat.