Ritual Adat Seren Taun yang Menyimpan Banyak Pesan Moral


Seren Taun – Salah satu  upacara yang ruting dilakukan oleh masyarakat Sunda untuk menyambut musim panen padi setiap tahun. Upacara ini dilakukan sebagai bentuk syukur masyarakat yang hidup dari agraris atau pertanian. Setiap ritual adat seren taun biasanya dihadiri oleh ribuan orang yang berasal dari masyarakat lokal hingga mancanegara. Beberapa desa Sunda yang rutin menyelenggarakan tradisini ini adalah Desa Cigugur (Kuningan), Desa Ciptagelar (Sukabumi), Desa Pasir Eurih (Bogor), Desa Kanekes (Banten) dan Desa Kampung Naga (Tasikmalaya).

Sesuai dengan asal daerahnya, kata seren itu sendiri berasal dari bahasa Sunda yang artinya serah atau seserahan, sedangkan taun memiliki arti tahun. Secara keseluruhan arti seren taun yaitu serah terima dari tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya. Sedangkan secara makna adalah wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang di dapat tahun ini dan berharap mendapatkan hasil tani yang meningkat pada tahun selanjutnya.



Ritual Adat Seren Taun


Sejarah Singkat Seren Taun

Sebenarnya tradisi ini sudah dilakukan secara turun temurun sejak zaman Kerajaan Sunda Dulu salah satunya Kerajaan Pajajaran. Upacara ini sebagai bentuk memuliakan dewi padi yang bernama Nyi Pohaci Sanghyang Asri berdasarkan kepercayaan Sunda kuno. Hal ini dikarenakan aliran kepercayaan masyarakat Sunda dulu adalah animisme-dinamisme atau memuliakan arwah leluhur dan kekuatan dari alam.


Masyarakat Sunda tempo dulu sangat memuliakan kekuatan alam yang dipercaya dapat memberikan kesuburan pada setiap tumbuhan dan juga hewan ternak. Kekuatan alam ini digambarkan dalam wujud Dewi Nyi Phoaci Sanghyang Asri sang dewi padi dan kesuburan.

Tradisi ini sempat terhenti ketika Kerajaan Pajajaran runtuh, kemudian hidup kembali beberapa saat dan akhirnya benar-benar berhenti pada tahun 1970-an. Namun, tradisi ini mulai dihidupkan kembali pada tahun 2006 di Desa Adat Sindang Barang, Taman Sari, Bogor. Upacara ini juga disebut sebagai kebangkitan jati diri kebudayaan masyarakat Sunda.

Baca Juga: Makna Terpendam Pada Ritual Adat Ngaben di Bali

Tata Cara Pelaksanaan Ritual Seren Taun

Upacara ini dilakukan setiap tanggal 22 bulan Rayagung yaitu bulan terakhir pada penanggalan Sunda. Selain menjalankan beberapa ritual, pada upacara ini juga digelar pertunjukan kesenian dan hiburan. Dimulainya seren taun ditandai dengan upacara ngajayak (menjemput padi) yang dilakukan pada tanggan 18 Rayagung atau 4 hari sebelum hari H.

Penyerahan padi dilakukan oleh masyarakat setempat yang diberikan kepada ketua adat. Nantinya, padi yang diserahkan akan dimasukan ke dalam lembung utama dan beberapa lumbung pendamping. Lalu, pemimpin adat memberikan induk padi yang sebelumnya sudah diberikan doa-doa dan diberkati kepada para pemimpin desa untuk ditanam. Acara terus berlanjut hingga puncaknya pada tanggal 22 Rayagung.

Baca Juga: 5 Jenis Tarian Sunda yang Terkenal Dengan Gerakan dan Busana yang Khas

Selama prosesi pengangkatan hingga penyerahan padi diiringi dengan alunan musik tradisional khas Sunda. Ada dua jenis lumbung (leuit) padi yang terdapat di setiap desa adat yaitu lumbung utama dan lumbung kecil (leuit leutik). Lumbung utama digunakan untuk pare bapak dan padi ibu. Pare bapak ditutupi kain berwarna hitam dan padi ibu ditutupi kain berwarna putih. Sedangkan lumbung kecil digunakan untuk menampung padi yang berlebih di lumbung utama.


Selain itu, ada perbedaan lain terkait cara mengawali upacara seren taun di beberapa desa adat, salah satunya adalah mengambil air yang dianggap suci dari 7 sumber mata air yang dikeramatkan. Air tersebut ditampung dalam satu wadah kemudian dibacakan doa oleh tetua desa setempat. Setelah dibacakan doa, air dicipratkan ke semua orang yang hadir pada upacara ini dengan tujuan supaya setiap orang mendapatkan keberkahan.

Ritual lainnya yang tidak kalah menarik adalah sedekah kue, nantinya seluruh warga memperebutkan kue yang ada di tampah. Kue tersebut juga dipercaya mendatangkan keberkahan bagi yang memakannya. Tahap selanjutnya adalah pemotongan kerbau, semua daging kerbau yang dipotong akan dibagikan kepada warga yang kurang mampu. Sebagai penutupnya yaitu makan tumpeng bersama, tujuannya untuk menguatkan rasa persaudaraan.



Ritual adat seren taun ini memiliki banyak sekali makan seperti menghargai hasil bumi, menjaga alam dan juga menjaga tali silaturahmi sesame warga. Upacara ini masih terus berjalan hingga sekarang, bahkan sudah diliput oleh banyak media asing karena memiliki keunikan tersendiri.