Mengikuti Tradisi Balimau di Minangkabau Sambil Membersihkan Diri


Balimau – tradisi yang rutin dilakukan oleh masyarakat Minangkabau ketika menjelang ramadhan. Setiap kali memasuki bulan suci Islam ini, banyak warga yang datang secara beramai-ramai ke pemandian atau aliran sungai tertentu untuk membersihkan diri yang “kotor”. Tradisi balimau sudah dilakukan sejak berabad-abad yang lalu dan diwariskan secara turu temun. Semua orang boleh menjalankan tradisi ini, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Kata balimau itu sendiri berasal dari kata limau yang artinya jeruk nipis. Pada tradisi ini, para warga mandi dengan menggunakan jeruk nipis sebagai pengganti sabun. Hal ini berdasarkan kebiasaan masyarakat zaman dahulu yang menggunakan jeruk nipis untuk membersihkan badan karena dulu belum ada sabun. Jeruk nipis dipercaya dapat menghilangkan kuman dan juga melarutkan keringat yang menempel di tubuh.



Upacara Tradisi Balimau


Mengulik Sejarah Balimau

Sebenarnya balimau ini merupakan warisan budaya Hindu yang ada sejak zaman Majapahit. Namun, ketika Agama Islam masuk ke Minangkabau maka terjadi semacam penggabungan budaya Hindu dan Minang. Sehingga disepakati jika Balimau ini hanya menjadi tradisi untuk mensucikan diri menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Tempat yang dipilih adalah pemandian yang memiliki air mengalir artinya tidak menggenang di satu tempat.


Bisa dibilang jika tradisi ini awalnya merupakan bentuk kepercayaan terhadap nenek moyang. Sehingga pada perkembangannya, tradisi ini mulai dibatasi oleh ulama setempat karena dikhawatirkan menimbulkan hal-hal yang justru melanggar ajaran agama Islam.

Hukum Mandi Balimau dalam Islam

Secara umum, mandi diperbolehkan dalam Islam sebagai sarana pembersihan diri dari berbagai kotoran dan najis. Sedangkan mandi balimau juga diperbolehkan, namun yang dilarang adalah bercampurnya laki-laki dan perempuan ketika melakukan tradisi tersebut. Hal inilah yang menjadi pertimbangan MUI Sumatera Barat menghimbau masyarakat untuk tidak menjalankan balimau. Namun, ada juga beberapa ulama yang berpendapat, balimau boleh saja dijalankan asalkan pemandian laki-laki dengan perempuan dipisahkan.

Mengulas Sejarah Balimau Kasai

Selain balimau di Minangkabau, ada juga tradisi Balimau Kasai yang dirayakan oleh masyarakat Kampar, Riau. Balimau kasai juga dilakukan sebagai bentuk penyambutan bulan suci Ramadhan. Sedangkan jeruk yang digunakan pada tradisi ini adalah jeruk purut, jeruk kapas dan jeruk nipis. Bedanya, pada tradisi ini menggunakan Kasai atau wewangian pada saat berkeramas.

Masyarakat Kampar percaya dengan menggunakan wangi-wangian ketika keramas dapat menghilangkan berbagai macam pikiran buruk dan rasa dengki yang ada di kepala.
Tradisi balimau kasai ini sudah dilakukan sejak berabad-abad yang lalu pada zaman kerajaan. Balimau kasai berasal dari kebudayaan masyarakat India yang mandi di sungai Gangga. Kemudian tradisi itu masuk ke Indonesia dan mengalami akulturasi antara kebudayaan Hindu-Islam yang dilakukan sejak masa Kerajaan Muara Takus.
Balimau Kasai dilakukan pada sore hari sebelum ramadhan menjelang. Semua warga mulai dari anak-anak hingga orang tua masuk ke dalam sungai dan membersihkan diri menggunakan jeruk nipis, jeruk purut dan jeruk kapas. Setelah mandi, dilanjutkan dengan menggunakan kasai atau wewangian seperti lulur untuk wanita. Bahan-bahan yang digunakan untuk kasai yaitu kunyit, beras, daun pandan, dan berbagai macam bunga yang wangi untuk kulit tubuh.


Tidak jauh berbeda dengan balimau Minangkabau, pada balimau kasai juga mulai dibatasa karena banyak warga yang mandi secara bersamaan antara laki-laki dan perempuan, karena dikhawatirkan menuju ke arah maksiat dan parahnya lagi banyak muda-mudi yang sambil minum miras ketika tradisi ini berlangsung.

Sebagai Ajang Silaturahmi

Tujuan awal diadakannya tradisi balimau ini adalah untuk membersihkan diri, hati dan jiwa sebelum menjalankan ibadah puasa ramadhan. Selain itu, ada makna lainnya pada tradisi balimau yaitu sebagai sarana untuk mempererat tali silaturahmi sesama warga.  Dengan berkumpulnya para warga di satu sungai atau pemandian diharapkan dapat saling bercengkrama dan saling memaafkan.


Tradisi balimau di Minangkabau dan balimau Kasai sekarang ini memang sudah dibatasi oleh para ulama tapi masih banyak warga yang melaksanakannya. Bahkan, tradisi ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan dari dalam dan luar negeri. Namun, tokoh agama setempat meminta agar para warga membatasi pemandian ketika tradisi ini berlangsung agar laki-laki dan perempuan tidak bercampur.