Tradisi Dugderan Semarang untuk Menyambut Bulan Suci Ramadhan


Tradisi Dugderan – Setiap memasuki bulan suci Ramadhan, Kota Semarang selalu mengadakan festival yang meriah sebagai tanda dimulainya ibadah puasa. Setiap tradisi dugderan ini digelar pasti dipadati oleh banyak pengunjung , bahkan tidak jarang terlihat turis asing yang ikut serta meramaikan tradisi ini. Perayaan ini dibuka oleh Walikota Semarang dan dimeriahkan dengan banyak letusan kembang api dan petasan.

Ada banyak kesenian yang ditampilkan pada festival ini, dan juga disekitar lokasi tradisi Dugderan terdapat banyak pedagang yang menjual aneka macam dagangan layaknya pasar malam. Bahkan, sekarang ini tidak sedikit perusahaan besar yang menjadi sponsor acara dugderan. Selain untuk hiburan, dugderan juga menjadi media dakwah Islam.


Tradisi Dugderan Semarang


Sejarah Singkat Tradisi Dugderan

Kata dugderan berasal dari gabungan kata “Dug” yang artinya bedug dan “Der” yang merupakan bunyi petasan. Nama dugderan diambil sebagai penanda datangnya bulan puasa yang ditandai dengan pukulan bedug dan diakhiri dengan bunyi petasan.

Tradisi dugderan dimulai pada tahun 1891 yaitu pada masa pemerintahan Bupati Semarang kala itu yang bernama Arya Purbaningrat. Beliau memukul bedug dan menyalakan meriam di masjid Agung Semarang sebagai tanda masuknya bulan suci Ramadhan. Kemudian, masyarakat menambahkan tindakan yang dilakukan Bupati dengan karnaval sebagai bentuk hiburan untuk warga Semarang.

Baca Juga: Melihat Lebih Dekat Ritual Tiwah Suku Dayak yang Sangat Unik

Kala itu bupati Semarang sangat prihatin melihat persatuan warga di kota Semarang, hal ini dikarenakan adanya beberapa gerakan yang memang sengaja ingin memecah belah persatuan warga Semarang. Disinyalir colonial Belanda menjadi “otak” dari gerakan tersebut, mereka melakukan politik adu domba dengan memisahkan suku, agama dan golongan yang ada di Semarang.


Tentu saja pemisahan ini malah membuat warga Semarang menjadi terpecah belah sehingga terjadi pengelompokan untuk masing-masing golongan di beberapa wilayah seperti kawasan pecinan hanya untuk orang-orang Cina, kawasan Pakojan hanya untuk warga keturunan Arab, kawasan kampong Jawa hanya untuk orang-orang pribumi saja.

Pengelompokan ini semakin menjadi parah karena adanya perbedaan pendapat mengenai masuknya awal bulan Ramadhan dan juga hari besar Islam lainnya.

Sehingga Bupati Purbaningrat mengambil inisiatif untuk memadukan semua perbedaan termasuk perbedaan dalam menentukan awal bulan ramadhan dengan mengadakan suatu tradisi  yaitu dengan membunyikan bedug sebanyak 17 kali dan dilanjutkan dengan bunyi dentuman meriam sebanyak 7 kali.

Prosesi Tradisi Dugderan

Secara garis besar, ada 3 agenda yang berlangsung pada tradisi dugderan yaitu mengadakan pasar dugderan satu minggu sebelum Ramadhan, dilanjutkan dengan mengumumkan masuknya awal bulan suci Ramadhan, dan puncaknya mengadakan kirab budaya dugderan di halaman balai kota Semarang yang ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat.

Beberapa persiapan yang dilakukan di balai kota :
  • Bendera
  • Karangan bunga yang sudah dibentuk lingkaran untuk prosesi mengalungkan pada meriam yang akan digunakan nantinya
  • Mesiu dan juga Koran yang digunakan untuk membunyikan meriam
  • Gamelan yang nantinya digunakan untuk mengiringi upacara

Pada kirab budaya ini terlihat karnaval mobil yang dihiasi berbagai ornamen dan juga beberapa orang yang menggunakan pakaian budaya dari berbagai daerah sebagai simbol Bhineka Tunggal Ika, pertunjukan teatrikal, drum band, dan lainnya.

Baca Juga: Mengikuti Tradisi Balimau di Minangkabau Sambil Membersihkan Diri

Upacara dugderan dimulai pada pukul 15.30 WIB tepatnya 1 hari sebelum bulan Ramadhan. Acara diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan pemukulan bedug sebanyak 3 kali dengan diiringi alunan gamelan. Setelah itu, meriam dibunyikan dengan dentuman yang keras.


Ada satu ikon yang seringkali ditampilkan dan diarak pada festival ini yaitu Warak Ngendok semacam binatang dengan mulut terbuka dan lidah yang menjulur. Pada kaki mahluk ini ditambahkan hiasan ikatan rantai. Warak Ngendok ini sebagai simbol kerukunan yang terjalin antar agama dan suku di Semarang.

Tradisi ini terus mengalmai perkembangan setiap tahunnya. Jika dahulu menggunakan meriam untuk mengawali dugderan tapi sekarang menggunakan sirine. Selain itu, pedagang yang ikut serta dalam acara ini juga lebih bervariasi, ada yang menjual mainan anak, pakaian, makanan dan lainnya.



Dengan adanya tradisi dugderan Semarang maka seluruh warga yang beragama Islam keesokan harinya sudah harus menjalankan ibadah puasa. Tradisi ini tentunya memiliki nilai yang sangat positif untuk menyatukan seluruh masyarakat dalam kebhinekaan.