Mengulas Sejarah Kerajaan Melayu Lebih Dalam dan Objektif


Kerajaan Melayu – merupakan kerajaan yang paling tua di Pulau Sumatera, bahkan menurut para pakar arkeologi dan sejarah kerajaan ini lebih tua dari Sriwijaya yang berkuasa sekitar awal abad 7 Masehi. Namun, memang harus diakui para pakar bahwa kerajaan ini masih sulit ditelusuri latar belakangnya, karena Prasati Melayu kuno belum banyak ditemukan dan masih sedikit yang menelitinya.

Salah satu berita yang paling tua mengenai keberadaan Melayu kuno berasal dari Dinasti Tsang di China yang menulis tentang utusan yang berasal dari Mo-lo-yeu sekitar tahun 644-645. Jika melihat dari berbagai prasasti yang ada, maka tidak dapat dipungkiri jika Kerajaan Melayu dan Sriwijaya sama-sama kerajaan maritim yang menjalankan aktivitasnya sebagai pedagang di wilayah Nusantara (Indonesia tempo dulu).



Sejarah Kerajaan Melayu


Mengenal Sejarah Kerajaan Melayu

Awal mula terdengarnya Kerajaan Melayu diketahui dari dua buku yang ditulis pendeta asal China bernama I Tsing atau I Ching (634-713) yang sangat terkenal dengan judul Nan hai Chi kue Nei fa Chuan dan T’ang Hsi yu Ch’iu fa Kao seng Chuan. Ia menulisnya ketika sedang melakukan pelayaran dari China ke India sekitar tahun 671 masehi.

Dalam perjalanannya, I Tsing berlabuh di Sriwijaya kurang lebih selama 6 bulan. Disana ia belajar banyak mengenai Sabdawijaya dan juga menerjemahkan berbagai naskah Buddha ke bahasa China. Kemudian, ia mengaku dikirim ke negeri Melayu dan singgah selama 2 bulan. Kemudian ia melanjutkan lagi perjalannya menuju India.

Baca Juga: Sisi Lain Sejarah Candi Borobudur yang Penuh Misteri

Sejarah Berdasarkan Prasasti Kerajaan Melayu


1. Prasasti Kedukan bukit
Sekitar pertengahan abad kesebelas, serangan dahsyat yang dilakukan Rajendra Choladewa membuat Kerajaan Sriwijaya menjadi lemah. Pada saat itulah, Kerajaan Melayu mengambil kesempatan untuk bangkit. Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan oleh seorang pegawai pemerintah Hindia Belanda bernama M. Batenburg pada tahun 1920 menyebutkan bahwa, Kerajaan Melayu berhasil bebas dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

2. Prasasti Amoghapasa
Prasasti Amoghapasa adalah pemberian dari Kertanagara raja Singhasari kepada Tribhuwanaraja raja Melayu di Dharmasraya pada tahun 1208 Saka atau 1286 Masehi. Prasasti Amoghapasa menyebutkan bahwa sekitar abad ke 13 Dharmasraya berada di dalam kekuasaan Kerajaan Melayu.

Pada tahun 1347, Adityawarman menambah pahatan aksara yang dituliskan dalam bahasa Sanskerta pada bagian belakang prasasti. Tata bahasa dari pahatan manuskrip ini tidak terstruktur dan sangat sulit untuk menerjemahkannya dengan benar. Sebagian besar isinya merupakan kata pujian kepada Adityawarman.

Letak Geografis Kerajaan Melayu

Berdasarkan penelitian para sejarawan, Kerajaan Melayu berada di Pantai Timur Sumatera dengan pusat kerajaan di sekitar wilayah Jambi. Letaknya sangat strategis untuk jalur perdagangan wilayah Cina dan India yaitu di tepi pantai Selat Malaka. Bahkan, kala itu Kerajaan Melayu memiliki peran yang sangat penting dalam perdagangan Nusantara.

Agama dan Pemerintahan Kerajaan Melayu

Awalnya, para penduduk memeluk agama Budha Hinayana, lalu berubah memeluk agama Budha Mahayana. Sedangkan untuk pemerintahannya, Kerajaan Melayu dipimpin oleh raja yang bernama Mauliwarmadewa sekitar abad ke 7. Kemudian sekitar abad ke 14, kerajaan ini dipimpin oleh raja bernama Adityawarman, hal ini berdasarkan tulisan dari prasasti-prasasti yang ditemukan.


Adityawarman merupakan anak dari Adwayawarman yang ternyata masih keturunan Kerajaan Majapahit. Ketika Adityawarman berkuasa, ia memperluas daerah kekuasaannya hingga ke wilayah Pagaruyung  pada tahun 1347. Atas keberhasilan usahanya ini, ia pun memberi gelar pada dirinya sendiri sebagai maharaja diraja dengan gelar Udayadityawarman.


Dari prasasti peninggalanya disebutkan bahwa Adityawarman beragama Budha Tantrayana. Setelah ia wafat, tahtanya dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Anangawarman.

Sepanjang sejarah, kita hanya mengenal Adityawarman saja. Padahal, ada beberapa nama raja yang memimpin Kerajaan Melayu sebelumnya, berikut ini nama-namanya:

1. Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa

Trailokyaraja adalah seorang maharaja Melayu di Dharmasraya dan dianggap juga sebagai Maharaja Sriwijaya. Berdasarkan Prasasti Grahi tahun 1183 yang ditemukan di selatan Thailand. Isi prasasti tersebut berupa perintah kepada bupati Grahi kala itu yang bernama Mahasenapati Galanai untuk membuat sebuah archa Budha dengan berat 1 bhara 2 tula atau setara 10 emas tamlin.

2. Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa

Berdasarkan isi Prasasti Padang Roco pada tahun 1286 yang ditemukan di Kabupaten Dharmasraya. Isinya, berita tentang pengiriman Arca Amonghapasa sebagai hadiah dari raja Singhasari kepada Raja Malayu.

3. Akarendrawarman

Akarendrawarman dipercaya anak dari salah satu putri Raja Melayu atau Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa yang bernama Dara Jingga. Berdasarkan Prasasti Suruaso tahun 1316 yang berada di Kabupaten Tanah Datar

4. Adityawarman

Adityawarman adalah sosok penerus dari Dinasti Mauli penguasa pada Kerajaan Melayu yang sebelumnya beribu kota di Dharmasraya. Dari manuskrip pengukuhannya ia menjadi penguasa di Malayapura Swarnnabhumi atau Kanakamedini pada tahun 1347 Berdasarkan penjelasan Arca Amoghapasa. Selain itu, penjelasan dari Prasasti Suruaso yang berisi pengiriman utusan Cina yang datang ke Kerajaan Malayu pada zaman dinasti Ming. Adityawarman diberi gelar Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa, dan di kemudian hari ibu kota dari kerajaan ini berpindah ke daerah pedalaman Minangkabau.

5. Ananggawarman

Berdasarkan Prasasti Batusangkar tahun 1375 di Kabupaten Tanah Datar. Beliau merupakan penerus dari Raja Adityawarman.


Hingga sekarang ini masih banyak sejarawan yang menelusuri sejarah Kerajaan Melayu melalui berbagai prasasti, arca dan peninggalan lainnya. Potret Kerajaan Melayu membuktikan jika Indonesia pernah menjadi salah satu pusat perdagangan beberapa negara kala itu.