Tedak Siten Jawa, Sebuah Tradisi untuk Sang Buah Hati


Tedak Siten -  Manusia memiliki tingkatan kehidupan, mulai dari alam Rahim yang ada di kandungan ibu, alam dunia dan alam kematian. Masyarakat Jawa sering mengadakan syukuran untuk setiap tingkatan seperti 7 bulanan saat bayi masih di kandungan dan 40 hari untuk yang sudah meninggal. Nah, ada satu tradisi yang dilakukan ketika bayi sudah lahir yaitu tedak siten Jawa. Tradisi ini dilakukan ketika si bayi berusia 8-9 bulan.

Tedak memiliki arti turun dan siten memiliki arti tanah, jadi tedak siten berarti turun atau menapakan tanah. Seperti dijelaskan sebelumnya, objek tradisi ini adalah bayi yang berusia 8-9 bulan dalam penanggalan Jawa. Bayi yang belum mengikuti tradisi tedak siten dilarang untuk memijakan kakinya ke tanah walaupun si bayi sudah bisa berdiri. Jadi, orang tua harus menahan bayi agar kakinya tidak menginjak tanah selama tradisi ini belum dilakukan.



Tradisi Tedak Siten Jawa


Upacara ini merupakan bentuk syukur atas kehadiran si bayi, selain itu memasuki usia tersebut si bayi sudah bisa melihat jelas alam sekitar dan mulai berjalan walaupun belum terlalu lancar. Pada tradisi ini ada beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh si bayi, setiap tahapan yang dilakukan tentunya memiliki unsur budaya yang sangat kental.

Persiapan Tedak Siten Jawa

Dalam tradisi ini, perlengkapan yang digunakan disebut uba rampen. Ada beberapa macam uba rampen yang harus disiapkan diantaranya adalah jenang warna-warni (merah, putih, hijau, kuning, biru, cokelat, merah muda/ungu), kurungan ayam besar yang diisi berbagai macam barang (alat tulis, macam-macam mainan, dll), tangga yang dibuat dengan bahan dasar tebu ireng.


Ada lagi uba rampen yang menjadi simbol masa depan anak yang harus disiapkan yaitu ayam panggang, pisang raja (menjadi simbol harapan kelak si anak akan hidup dengan sejahtera dan mulia), banyu gege (air yang disimpan di dalam wadah berupa tempayan selama satu malam dan pada pagi harinya air tersebut dihangatkan menggunakan sinar matahari), lawe wenang dan udhikudhik (beras yang sudah diberikan warna alami menggunakan kunyit kemudian masukkan uang logam kedalamnya).

Beberapa perlengkapan lain yang juga tidak boleh ketinggalan yaitu jenang-jenangan, tumpeng lengkap dengan gudangan dan jajanan pasar tradisional.

Prosesi Tedak Siten

Tradisi ini memiliki beberapa tahapan, tapi dari sekian tahapan yang paling penting adalah tedak siten harus dilaksanakan pada pagi hari. Berikut ini tahapan lainnya yang harus dilakukan :

Membersihkan Tubuh Bayi
Tahap pertama yang harus dilakukan yaitu membersihkan tubuh bayi dari kotoran. Prosesi pembersihan tubuh bayi ini memiliki makna agar bayi menjadi lebih suci.

Menginjak Juadah
Selanjutnya, si anak harus menginjak juadah yang memiliki tujuh warna yaitu merah, putih, hitam, kuning, biru, pink dan ungu. Namun, ada juga yang membalik urutan dari setiap warna juadah, jadi tidak harus berurutan.

Mudhun Tangga Tebu
Setelah menginjak juadah, kemudian si ibu menuntun sang anak secara perlahan untuk menaiki tangga yang dibuat dari tebu wulung atau tebu ireng. Lalu, anak turun kembali dari tangga dengan dituntun oleh si ibu.

Ceker-Ceker
Tetap dalam tuntunan sang ibu, prosesi selanjutnya yaitu ceker-ceker pasir. Si buah hati dituntun oleh ibu berjalan menuju pelataran pasir, kemudian kaki anak dikais-kaiskan layaknya ceker ayam yang sedang mengorek pasir untuk mencari makan di tanah.

Kurungan
Setelah ceker-ceker, si anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam besar yang sebelumnya sudah dihiasi dengan pita warna-warni dan janur agar si bayi tidak takut ketika berada di dalam kurungan. Terkadang si anak ditemani ibunya supaya tidak nangis atau ketakutan.


Pada prosesi ini, si anak akan memilih barang-barang yang ada di dalam kurungan yang sudah disiapkan sebelumnya. Beberapa barang yang seringkali dimasukkan ke dalam kurungan yaitu barang berharaga (uang dan perhiasan), wayang kulit, Al Quran, alat tulis dan lainnya,

Sebar Undhik-Undhik
Berikutnya sang buah hati dibantu ibu menyebarkan undhik-undhik yaitu beras kuning yang sudah dicampurkan kertas dan logam.

Siraman
Prosesi terakhir yang harus dilakukan yaitu memandikan bayi menggunakan banyu gege yang dicampur kembang telon. Setelah itu si bayi dikeringkan menggunakan handul lalu dipakaikan baju yang baru dan didandani.


 Dengan melakukan tradisi tedak siten Jawa diharapkan buah hati tercinta memperoleh masa depan yang baik dan mampu menghadapi segala macam masalah dalam kehidupan. Tradisi ini juga bertujuan untuk mempererat dan mendidik anak agar terus menjaga tali silaturahmi.